
Indonesia kini menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Laporan SIRCLO 2025 menunjukkan GMV e-commerce RI mencapai ~US$65 miliar pada 2024. Pertumbuhan transaksi online juga stabil (naik ~4,95% di 2024). Dari riset internal, kategori produk dengan pertumbuhan transaksi tertinggi adalah FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) sebesar 90,45, disusul Beauty & Personal Care 62,07%, serta Ibu & Anak 35,52%. Ini mencerminkan bahwa produk kebutuhan sehari-hari, kecantikan, serta perlengkapan keluarga selalu dicari. Sebagai affiliate marketer, fokuslah pada produk yang termasuk kategori ini karena permintaannya sangat tinggi.
Indikator Produk Afiliasi Layak
Saat memilih produk afiliasi di marketplace lokal (Shopee/Tokopedia), perhatikan kombinasi faktor berikut:
- Volume Penjualan & Permintaan Pasar: Cari produk yang banyak dibutuhkan sehingga penjualannya tinggi. Data SIRCLO menunjukkan pertumbuhan pesat di kategori FMCG dan skincare. Contohnya, kebutuhan pokok (beras, minyak goreng, gula) selalu dicari karena digunakan sehari-hari. Begitu pula fashion muslim, aksesoris HP, dan produk kecantikan yang populer.
- Komisi vs Volume: Perhatikan trade-off antara komisi per penjualan dan frekuensi penjualan. Produk mahal (elektronik, gadget) biasanya menawarkan komisi lebih besar tiap transaksi, tetapi volume pembeliannya relatif lebih sedikit. Sebaliknya, produk murah (misal paket sembako, camilan, mainan anak) meski komisinya kecil, dijual banyak kali sehingga total penghasilan bisa signifikan. Hindari terjebak hanya pada komisi tinggi: teliti permintaan produknya dulu.
- Reputasi dan Kepercayaan Produk: Utamakan produk dengan brand atau rating baik. Konsumen Indonesia sering mengecek review sebelum membeli. Produk yang sudah terkenal atau teruji (misal merek lokal ternama, label Shopee Mall) lebih mudah dijual. Sertakan testimonial atau ulasan jujur untuk memperkuat kepercayaan. Hindari produk tanpa testimoni atau dengan banyak ulasan negatif.
- Potensi Evergreen: Pilih produk yang selalu dibutuhkan sepanjang tahun dan tidak hanya tren sesaat. Misalnya, bumbu masak, suplemen kesehatan, perlengkapan bayi, atau gadget dasar (charger, powerbank) memiliki pasar stabil. Lihat data Google Trends: istilah seperti “casing HP” dan “makanan instan” menunjukkan permintaan yang konsisten. Sesuaikan niche dengan kebutuhan audiens Anda – misal, audiens ibu-ibu membutuhkan popok dan susu anak, audiens muda tertarik gadget murah dan perawatan kulit.
Niche Evergreen Indonesia (Produk “Tak Pernah Mati”)

Beberapa niche produk di Indonesia bersifat evergreen (dicari sepanjang tahun):
- Kebutuhan Pokok & FMCG: Produk sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula, sembako siap saji (mie instan, camilan) senantiasa laris. Populernya istilah Google “paket sembako” dan “makanan instan” mencerminkan permintaan besar. Hostinger melaporkan sembako masuk daftar terlaris karena permintaannya “tinggi” (hampir semua orang membutuhkannya).
- Kecantikan & Perawatan Diri: Skincare, makeup, dan produk bodycare termasuk top seller. Menurut Jubelio, kategori Beauty & Bodycare menguasai ~41% transaksi Shopee. Produk kecantikan lokal maupun internasional sering habis terutama saat promo. Konsumen tetap mencari produk anti-aging, pencerah kulit, hingga perawatan rambut.
- Fashion & Aksesoris: Pakaian wanita (dress, gamis, hijab), alas kaki, tas, hingga aksesoris (topi, jam tangan) dominan di Shopee. Kategori Fashion Wanita selalu mendominasi penjualan karena tren mode yang terus berkembang. Sepatu olahraga, kaos polos, maupun pakaian muslim juga memiliki pasar luas.
- Elektronik & Gadget: Smartphone terbaru, earphone, powerbank, dan aksesori HP (charger, casing) masuk kategori primadona. Grafik Google Trends menunjukkan minat kata kunci “casing HP” tetap tinggi. Belanja online memudahkan konsumen memperoleh gadget dengan diskon besar, sehingga demand terus ada.
- Ibu & Anak: Popok bayi, susu formula, mainan edukasi, dan peralatan menyusui sangat dicari oleh orang tua muda. Produk-produk ini berulang dibeli seiring pertumbuhan anak. Shopee memudahkan belanja produk bayi tanpa keluar rumah.
- Makanan & Minuman: Camilan (bakso beku, keripik, snack kiloan), kopi bubuk, dan camilan instan adalah favorit konsumen. Data Google Trends menunjukkan minat tak pernah turun untuk “makanan instan”. Penjual sering memasarkannya via marketplace karena praktis dikirim ke mana saja.
- Kesehatan & Kebugaran: Vitamin, suplemen kesehatan, alat fitness rumahan (treadmill portable, skipping rope) kian populer karena makin banyak orang peduli gaya hidup sehat. Kategori olahraga dan hobi juga meningkat demand-nya.
- Perlengkapan Rumah Tangga: Blender, rice cooker, vacuum cleaner, atau dekorasi rumah banyak dicari keluarga. Rochito menyebut peralatan masak & kebersihan rumah sering diburu banyak keluarga. Komisi tidak besar namun kebutuhan rutin mendukung volume penjualan.
Grafik Google Trends menunjukkan pencarian “casing HP” konsisten tinggi dalam 5 tahun terakhir, mencerminkan produk aksesori ponsel yang selalu dicari.
Listing paket sembako (beras, minyak, gula) di Tokopedia – produk pokok ini laku keras karena dibutuhkan semua orang setiap hari.
Tren Google menunjukkan minat tinggi pada “makanan instan” yang stabil dari tahun ke tahun. Ini konsisten dengan fakta mie instan, bakso, seblak, dan camilan lainnya adalah produk favorit konsumen.
Perbedaan Pola Belanja Konsumen Indonesia
Pola belanja online di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang memengaruhi pilihan produk afiliasi:
- Social Commerce Dominan: Survey Populix (Juli 2022) melaporkan 86% konsumen Indonesia pernah belanja via media sosial. Sebagian besar transaksi social commerce terjadi di TikTok Shop, diikuti Facebook/Instagram dan WhatsApp. Ini berbeda dengan beberapa negara lain di mana marketplace atau e-commerce tradisional lebih dominan. Artinya, affiliate marketer di Indonesia sebaiknya memanfaatkan TikTok, Instagram, atau grup WhatsApp untuk promosi. Buat konten pendek menarik (video unboxing, tips singkat) yang mudah dibagikan di platform-platform tersebut.
- Puncak Jam Belanja: Data SIRCLO menunjukkan puncak transaksi pindah ke pukul 12.00 (makan siang) dan 19.00 (sepulang kerja). Dulunya (2023) puncak di jam 20.00. Ini berarti konten afiliasi di sosial media lebih efektif disebarkan menjelang jam-jam tersebut, karena konsumen cenderung online pada waktu istirahat siang atau malam hari.
- Pembayaran Cashless: Sekitar 63% transaksi e-commerce di Indonesia dilakukan tanpa tunai. E-wallet (ShopeePay, OVO, GoPay) menduduki porsi terbesar (~34%). Sisanya transfer bank, paylater, dan COD (~37%). Bandingkan dengan negara Barat di mana kartu kredit lebih umum. Strategi afiliasi: jelaskan metode pembayaran non-tunai yang diterima produk (misal ShopeePay), manfaatkan voucher diskon/cashback, serta sertakan kelebihan keamanan (garansi Shopee/Garansi Uang Kembali). Ini penting karena memudahkan konsumen lokal dan meningkatkan conversion.
- Diskon dan Festival Belanja: Indonesia dikenal dengan festival belanja ganda (10.10, 11.11, 12.12, Harbolnas). Pertumbuhan transaksi saat event ini melonjak 18–21%. Produk afiliasi harus dipilih dan di-push pada waktu promo besar ini untuk konversi maksimal. Promosikan produk yang sedang diskon, misal melalui konten “Rekomendasi 10.10” atau “Best Deals 12.12”.
Cara Riset Tren Produk Lokal Tanpa Bayar
Tanpa berlangganan tools berbayar, Anda tetap bisa riset pasar secara efektif:
- Google Trends & Search: Gunakan Google Trends (trends.google.co.id) untuk melihat popularitas kata kunci produk seiring waktu. Misalnya, Hostinger memanfaatkan Google Trends untuk identifikasi kata “aksesori HP” dan “casing HP” sebagai produk paling laris. Cek tren musiman dan kasus situs. Anda juga bisa mencari keyword seperti “produk terlaris [nama kategori]”, “review [produk]”, atau “unboxing [produk]” di Google atau YouTube untuk ide konten.
- Fitur Marketplace: Shopee menyediakan fitur “Produk Terlaris” dan “Shopee Mall” yang bisa dimanfaatkan gratis. Cukup buka Shopee (web/app), gulir ke bawah sampai kategori “Produk Terlaris”, dan klik “Lihat semuanya” untuk daftar item paling laris. Demikian pula, bagian Shopee Mall menampilkan toko dan produk favorit. Data ini memberi gambaran kategori apa yang banyak peminatnya.
- Hashtag & Media Sosial: Perhatikan hashtag populer di TikTok/Instagram (misal #fyp, #unboxing, atau nama produk populer). Konten yang sering muncul bisa menandakan produk tren. Juga, ikuti grup Facebook atau forum jual-beli lokal untuk melihat produk apa yang sering dibahas.
- Observasi Pesaing: Lihat apa yang dilakukan afiliator lain. Cari blog atau akun TikTok affiliate kompetitor, pelajari produk apa yang mereka promosikan dan jenis konten yang sukses. Jangan plagiat, tapi dapatkan inspirasi kategori.
Strategi Konten Afiliasi yang Membangun Kepercayaan
Konten promosi yang efektif adalah yang informatif dan membangun kepercayaan (trust). Beberapa prinsip kunci:
- Jujur & Edukatif, Bukan Hard Selling: Hindari nada terlalu menjual (misal “Beli sekarang!” secara memaksa). Kuncinya adalah mendidik audiens. Buat konten yang mengedukasi: jelaskan manfaat produk, problem apa yang dipecahkan, dan bandingkan dengan alternatif. Sebagai contoh, buat artikel blog “5 Kelebihan Rice Cooker X untuk Ibu Rumah Tangga” atau video TikTok “Unboxing dan Review Blender Y” yang memaparkan fitur nyata dan cara pakainya. Menurut impact.com, “kepercayaan mendorong konversi”: jadilah transparan dan rekomendasikan produk yang benar-benar Anda gunakan. Kementeriannya, gunakan istilah yang alami dan sisipkan affiliate link secara halus.
- Gunakan Bukti Sosial dan Testimoni: Rekomendasi dari pengguna lain sangat meyakinkan. Coba minta testimoni teman atau influencer kecil yang sudah pakai produk, lalu kutip di konten. UGC (user-generated content) juga efektif: tantang pengikut membuat review mereka sendiri dan beri hadiah kecil. Hal ini meningkatkan engagment dan “bukti sosial” karena rekomendasi teman/kerabat lebih dipercaya. Misalnya, sebuah akun bisa memposting ulang screenshot chat atau review email dari pembeli yang puas.
- Visual & Demonstrasi Produk: Untuk produk fisik, tampilkan foto/videonya secara jelas. Video unboxing atau before-after sangat menarik: menampilkan reaksi spontan saat membuka produk dan hasil nyata pakai produk tersebut akan membuat audiens merasa lebih percaya. Contohnya, buat video “Sebelum-Setelah Skincare Z seminggu” atau “Unboxing dan Cara Setting Drone” sebagai konten TikTok. Konten seperti ini meningkatkan keterlibatan dan memberikan bukti konkret kualitas produk.
- Konten Tutorial dan Solusi: Sertakan demonstrasi penggunaan atau tips khusus. Misal, jika produk adalah alat masak, buat tutorial resep; jika produk digital (aplikasi/editing software), buat video “Cara memakai fitur X”. Impact.com menekankan pentingnya solve real problems: struktur konten di sekitar kebutuhan audiens. Misalnya, affiliate laptop bisa membuat video “7 Tips Mencari Laptop Gaming Murah” yang memberi nilai bagi penonton.
- Call-to-Action Jelas: Akhiri konten dengan ajakan yang ringan namun jelas (CTA). Sebut di mana link pembelian di bio atau deskripsi, dan tambahkan insentif seperti “diskon khusus pembaca blog” jika ada. Cobalah memberikan kode kupon atau giveaway kecil untuk mendorong klik. Menurut impact.com, mempermudah audiens untuk membeli (clear CTA, penawaran khusus) dapat meningkatkan konversi.
- Optimalkan Media dan SEO: Karena Anda juga menggunakan blog dan Facebook, optimalkan kata kunci yang relevan (misal “rice cooker murah”, “shampo tanpa sulfat”) agar konten Anda muncul di Google. Untuk TikTok, pakai tagar (#reviewproduk, #affiliatemarketing) yang sedang tren. Gunakan bahasa santai yang sesuai target audiens.
Perbedaan Strategi Konten: Fisik vs Digital
Strategi konten dapat sedikit berbeda antara produk fisik dan digital:
- Produk Fisik: Manfaatkan kekuatan visual. Buat banyak foto atau video produk real use-nya (contoh: unboxing, demo memasak dengan produk, perbandingan dua gadget). Tunjukkan skala dan detail fisik yang tidak bisa didapat lewat teks saja. Karena produk ini bisa dilihat dan dirasakan, Anda juga bisa menekankan “persepsi nilai” (misal: “meski murah, blender ini bertenaga besar”). Produk fisik sering menawarkan komisi lebih tinggi dan memungkinkan upselling (misal bundling barang terkait). Oleh karena itu, ciptakan konten yang membangun kepercayaan: review jujur, video sebelum-sesudah, serta foto produk jelas kualitasnya.
- Produk Digital: Misalnya kursus online, aplikasi, atau e-book. Keunggulan: komisi bisa berulang (langganan) dan margin lebih besar karena tak ada biaya produksi/pengiriman. Tantangannya, konsumen tidak bisa melihat fisiknya. Untuk itu, konten harus fokus pada hasil akhir dan trust. Buatlah testimoni pengguna atau studi kasus (misal screenshot kemajuan belajar dari kursus yang direkomendasikan). Berikan sneak peek fitur (contoh: tutorial singkat di blog untuk plugin atau software) atau tawaran trial bila memungkinkan. Buat CTA yang menggugah (misal gratis akses 1 bulan). Ajak audiens “bayangkan manfaat” yang mereka dapat (misal, “sudah siap naik level skill desainmu?”). CalonSultan menyatakan produk digital kian diminati karena potensi komisi berulang dan skalabilitasnya tinggi, jadi doronglah konten edukatif, webinar mini, atau Q&A livestream.
- Media Sosial vs Blog: Untuk produk fisik, konten video (TikTok/YouTube) sangat powerful. Untuk produk digital, artikel blog atau email marketing bisa lebih mendetail menjelaskan manfaat. Namun kedua jenis produk dapat diiklankan di semua platform: misal slide carousel Facebook (fisik), infografik di Instagram (digital benefits), thread Twitter (tips singkat), dll. Kunci utamanya membangun kepercayaan dan menunjukkan nilai nyata kedua jenis produk.
Contoh Produk Shopee/Tokopedia
Berikut beberapa contoh produk riil yang sesuai kriteria di atas (Anda dapat mencari link afiliasi-nya di Shopee/Tokopedia Affiliate):
- Peralatan Dapur: Rice Cooker Cosmos 1.8L, Blender Miyako, Air Fryer 2L, Set Pisau Dapur Bergaransi. Produk-produk ini murah, kebutuhan rumah tangga tinggi (FMCG), dan sering diskon saat festival.
- Kecantikan Skincare: Wardah Lightening Series, Emina Acne Series, Serum Scarlett, Pack Essence Somethinc. Skin care lokal ini laku keras sepanjang tahun karena masyarakat peduli penampilan. Contoh: Wardah toner atau Scarlett serum sering dicari untuk rutin perawatan kulit.
- Fashion Muslim & Aksesoris: Hijab Instan Elzatta, Gamis Syari Rabbani, Kaos Polos Raglan Muslim. Fashion wanita islami terus dicari untuk keperluan sehari-hari maupun acara spesial. Gamis dan kerudung misalnya selalu populer di Shopee.
- Elektronik & Gadget: Xiaomi Redmi (seri terbaru), Powerbank Anker, Wireless Earbud Realme, Charger 20W Baseus. Gadget murah dari China banyak diminati karena nilai guna tinggi. Contohnya, casing dan charger smartphone adalah kebutuhan tambahan yang sering terganti.
- Ibu & Anak: Popok MamyPoko (paket jumbo), Susu Formula SGM atau Morinaga, Hampers Kado Bayi (inclusive baju, mainan). Produk untuk bayi dicari secara rutin oleh orang tua muda.
- Produk Fitness dan Kesehatan: Treadmill Portable Lipat, Smartwatch Fitness Garmin/Huawei, Alat Yoga Mat – seiring tren hidup sehat, alat olahraga rumahan banyak dicari.
- Snacks & Sembako: Mie Instan Indomie Goreng (paket), Keripik Tempe oleh-oleh, Kopi Lokal (Tolak Angin, kopi luwak sachet). Camilan dan minuman praktis laku di marketplace.
Pastikan memilih varian produk yang memiliki rating bagus dan foto lengkap di Shopee/Tokopedia. Periksa pula program afiliasi setempat (Shopee Affiliate biasanya 1–5% per barang).
Kesalahan Umum Pemula dan Cara Menghindari
Banyak pemula tergoda untuk cepat “jualan” tanpa strategi. Berikut kesalahan yang sering terjadi dan solusinya:
- Hard Selling Berlebihan: Terlalu sering mengajak beli secara agresif (misal banyak tulisan “Beli Sekarang!”) malah membuat audiens lelah. Solusinya, buat konten edukatif dulu, seperti tips atau perbandingan produk, baru sisipkan link. Tampilkan soft selling dengan menonjolkan manfaat dan testimonial, bukan hanya iming-iming diskon.
- Fokus ke Banyak Program Sekaligus: Pemula sering ikut puluhan program afiliasi sekaligus, hingga fokus terpecah. Mulailah dengan 1–2 program (misal Shopee Affiliate dan satu program marketplace lain). Kuasai dulu niche produk Anda sebelum ekspansi. Jika tergoda program baru yang menawarkan bonus besar, timbang dulu dengan niche pasar Anda.
- Salah Pilih Produk Hanya karena Komisi: Hanya tergiur komisi tinggi tanpa riset permintaan bisa berakibat rendahnya penjualan. Misalnya, ada produk elektronik mahal dengan komisi 7% tapi tidak banyak orang butuh, sehingga klik bertebaran tapi jarang beli. Sebaliknya, produk kerajinan lokal dengan komisi 3% bisa lebih menguntungkan karena volume pembeli. Selalu cek tren dan rating produk sebelum memutuskan.
- Tidak Memiliki Platform Sendiri: Banyak pemula tak memiliki blog/website dan hanya mengandalkan media sosial acak. Padahal, punya “rumah” di internet (minimal blog sederhana) penting untuk mengumpulkan traffic jangka panjang. Melalui blog, Anda bisa menempatkan banyak link, optimasi SEO, dan membangun brand sendiri. Mulailah gratisan (Blogger, WordPress), tapi bertujuan upgrade ke domain sendiri agar lebih profesional.
- Tidak Melacak Kinerja: Sebagian kecil peduli statistik klik/pembelian affiliate. Padahal, penting untuk tahu produk mana yang sukses. Pelajari dashboard affiliate Anda: lihat rata-rata konversi, biaya per klik, dan pendapatan per link. Lakukan A/B testing pada judul konten atau platform promosi. Jika program tidak menyediakan detail, pakai URL shortener dengan fitur statistik untuk melacak klik.
Dengan menghindari kesalahan di atas dan terus belajar (belajar gratis dari blog atau komunitas affiliate), seorang pemula dapat lebih cepat “pecah telur” ke penghasilan pertama.
Kesimpulan
Dalam memilih produk afiliasi yang menguntungkan di Indonesia, gabungkan analisis riset pasar dengan pemahaman perilaku lokal. Utamakan produk evergreen berpenjualan tinggi (FMCG, kecantikan, gadget populer) dengan reputasi baik, lalu bikin konten berkualitas yang membangun trust. Gunakan data dan tren (SIRCLO, Google Trends, Shopee) untuk validasi ide produk. Hindari “hard selling” berlebihan dan kesalahan teknis pemula. Dengan pendekatan yang tepat—mengutamakan kebutuhan audiens, menghibur sekaligus mengedukasi, serta konsisten di blog, TikTok, dan Facebook—affiliate pemula pun bisa meraih hasil nyata.
Sumber: Data tren e-commerce dan kategori terlaris di Indonesiasirclo.com, jubelio.com, rochito.com, rochito.com, hostinger.com; kajian strategi konten & kepercayaanimpact.com, calonsultan.com, geti.id, digitalmarketer.co.id; serta artikel bisnis e-commerce Indonesia terkinidataboks.katadata.co.id, hostinger.com.



